ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
![]() |
| Cara Meracik Racun Panah Tradisional Mentawai. Ternyata Ini Pantangannya Agar Racunnya Sangat Ampuh… Baca Selengkapnya Disini!!! |
AMAN Boiroi
Ogok dan Liktek sibuk ke hutan mencari bahan untuk meracik racun panah (omai)
yang tidak jauh dari lokasi Festival Panah Tradisional Mentawai di Desa Muntei,
Kematan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang diadakan pada 26
sampai 28 Juli 2017.
Hanya setengah hari lamanya
mereka mencari bahan racikan untuk panah, kemudian di tangan Aman Boroi Ogok
sudah bahan-bahan ramuan racun panah yang akan diracik menjadi cair. Sementara
di tangan Liktek membawa peralatan untuk meracik racun panah.
Bahan untuk diolah menjadi
racun panah tersebut berupa, batang ragi, akar laingik (akar tuba), daro (cabe
rawit), kulit kayu lappak, bagglau (lengkuas). Nah, untuk bahan mengola racun
panah itu ada pepeccle (penjepit dari kayu), leccu (gelang dari rotan), gigiok
(pemarut dari duri dahan ruyung), lulak (baki tradisional Mentawai), tutuddu
(alat penumpuk dari kayu), serta tempurung tempat menampung cairan racun panah.
Untuk
menjadi racun panah, awalnya kulit kayu ragi dikupas dengan parang, setelah itu
kulit yang terkupas tersebut lalu diparut hingga halus, ramuan selanjutnya
lengkuas diparut sampai halus dan digabungkan dengan kulit batang ragi, kalau
sudah halus cabe rawit yang sudah disediakan sebelumnya ikut juga parut dalam
wadah yang sama.
Bahan terakhir menumbukkan akar
tuba hingga halus dan mengeluarkan cairan yang dikandung dari dalam daging tuba
tersebut. Agar cair maka cairan kayu dari kulit lappak tersebut dicampur dengan
bahan-bahan yang diparut.
Kemudian bahan yang sudah
dihaluskan akan dimasukkan kedalam gelang rotan lalu kayu yang dipakai untuk
pengapit agar cairan yang sudah diramu tersebut ke luar. Tempurung yang sudah
disiapkan tadi untuk menampung cairan.
Kalau sudah selesai semuanya,
maka panah yang sudah dibuat diambil bagian mata panah tersebut dioles dengan
ekor tupai yang ditancapkan ke bambu sehingga berbentuk kuas kecil. Racun panah
bisa dijilat untuk dirasakan apakah sudah tepat untuk berburu atau tidak.
Sangat berbahaya jika terluka karena
ujung panah yang sudah diracun. Namun jika dijilat tidak akan mati. Okezone
mencoba mencicipi rasanya pahit, pedas, panas, hingga rasanya seolah tersangkut
di tenggorokan.
Menurut
Aman Boroi Ogok, selama meracik racun panah ini tidak boleh menggoda wanita
bagi yang masih lajang dan melakukan hubungan suami istri bagi mereka yang
sudah berkeluarga.
“Dan itu pantangan mulai
membuat panah, meracik racun dan berburu, kalau itu dilanggar resikonya adalah
terkena panah dan berakibat kematian itu yang kita jaga,” ujar Aman Boroi Ogok
setelah meracik racun panah.
Panah diiberikan racun itu
untuk mencari makanan joja (monyet), simakobu, simaigi (babi hutan) dan sibeu
tubuh (rusa). Aman Boroi Ogok merasa khawatir karena sudah tidak ada lagi yang
menggunakana panah sebagai budaya orang Mentawai.
“Sekarang mereka menggunakan
senapan angin, kalau saya pasti akan menjaga namun generasi muda sekarang sudah
mulai pudar, saya sudah mengajar anak-anak kami namun mereka selalu melanggar
pantangan,” ujarnya.
Nasib tradisi murourou (berburu
dengan panah) di Mentawai memang diambang kepunahan hal itu dituturkan oleh
Pontius Saruruk (25) generasi muda di Desa Muntei.
Saat ini generasi muda di
Mentawai sudah jarang dipakai panah tersebut mereka mengejar pendidikan. Jadi
ada juga bagian pedalaman yang tidak sekolahkalau itu sama pandai menggunakan
panah dengan orang tua dulu di hutan untuk dipakai.
“Kalau berburu sudah memakai
senapan angin. Pasalnya kalau membikin panah itu sudah acara ritual dan yang
menggunakan sudah jarang, kalau membuat bisa tapi tidak sebagus yang pendahulu
kita buat,” kata Pontius.
Sementara
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Desti Seminora dengan kondisi
seperti ini pihaknya bersama warga Desa Muntei menggagas Festival Panah
Tradisional Mentawai untuk mewariskan budaya itu kepada generasi muda dan
pemikat wisata di Desa Muntei.
“Festival ini diadakan untuk
memperkenalkan tradisi memanah pada generasi muda Mentawai sekaligus untuk
memikat wisata luar dan dalam negeri berkunjung ke daerah Muntei,” ujarnya.
Selain
itu Desti juga menargetnya tumbuhnya usaha seperti kuliner, akomodasi,
transportasi kalau sekaraang dengan adanya tujuh stan. “Saya lihat perkembangan
untuk usaha saya lihat sebelum dibuka usaha ini sudah mencapai Rp1,5 juta itu
hanya tiga jam belum tenda lain, ini terbukti festival berdampak langsung
kepada masyarakat,” ujarnya.
Rencanaya
tahun depan akan dibuat lagi dilokasi yang sama namun skala nasional, kalau
bisa skala Internasional bisa mendatangkan pemanah tradisional dari negara lain
ke sini. “Namun kita rembukkan dulu dengan masyaraka setempat,” ujarnya.
(fid)

0 Response to "Cara Meracik Racun Panah Tradisional Mentawai. Ternyata Ini Pantangannya Agar Racunnya Sangat Ampuh… Baca Selengkapnya Disini!!!"
Posting Komentar